Skip to main content

Peluang investasi masa depan Morowali

Dari data yang dirilis oleh BPS Kabupaten Morowali, diketahui bahwa di masa pandemi covid tahun 2020 yang lalu, ekonomi Kabupaten Morowali mampu bertahan dengan pertumbuhan positif sebesar 28,51 persen, yang mana di tahun tersebut hampir seluruh kabupaten/kota di Indonesia mengalami kontraksi (pertumbuhan ekonomi negatif).

Beralih ke tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Morowali adalah sebesar 25,31 persen, sedikit melambat dari tahun sebelumnya. Dimana nilai total PDRB atas dasar harga berlaku berkisar 98,78 triliun Rupiah. Share terbesar dalam PDRB ini bila dilihat dari sisi lapangan usaha didominasi oleh 3 sektor lapagan usaha yaitu Industri pengolahan, Pertambangan dan Kontruksi. Sedangkan bila dilihat dari sisi pengeluaran, PDRB morowali didominasi oleh 3 kategori yaitu Ekspor, Impor dan PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto), yang mana kesemua peningkatan nilai tambah brutonya disebabkan oleh meningkatnya aktivitas pertambangan dan industri besar khususnya industri logam dasar.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pertambangan dan industri besar adalah penopang ekonomi di Kabupaten Morowali. Jika dilihat dari kacamata makro-ekonomi, perusahaan-perusahaan tambang yang mulai aktif beroperasi sejak tahun 2007 telah membawa dampak positif yang signifikan. Sebagai contoh apabila share sektor lapangan usaha pertambangan dan industri pengolahan khususnya logam dasar dikeluarkan dari PDRB, maka nilai PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2021 Morowali hanya berkisar 12 Triliun Rupiah atau hanya sekitar 12 persen dari total PDRB yang sebenarnya. Artinya sekitar 88 persen kontribusi “tambang” terhadap perekonomian Kabupaten Morowali. Nah, bagaimana dengan kontribusi tambang terhadap PDRB di tahun 2022? Mari kita nantikan rilisnya di bulan Maret.

Menarik, karena setiap tahunnya perusahaan-perusahaan tambang terus berkembang dan banyak investor yang berdatangan menanamkan modalnya. Berdasarkan data realisasi PMA dan PMDN tahun 2021, investasi untuk pertambangan dan industri logam dasar di kabupaten Morowali mencapai 1,59 miliar US dollar atau sekitar 24,62 triliun rupiah (kurs Rp. 15.500).

Investasi Pertambangan dan industri logam dasar ini berkontribusi sekitar 80,6 persen terhadap total investasi seluruh sektor lapangan usaha di tahun 2021. Secara kumulatif, total investasi untuk pertambangan dan industri logam dasar dari tahun 2010 sampai 2021 telah mencapai 8,83 miliar US dollar atau sekitar 129,9 triliun rupiah (kurs Rp. 15.500).

Namun yang menjadi pertanyaan, apakah hanya “tambang” yang bisa diandalkan di Kabupaten Morowali? Mari kita lihat kembali kondisi perekonomian lima belas tahun yang lalu sebelum adanya aktivitas pertambangan yakni tahun 2006. Saat itu, Kabupaten Morowali Utara masih bergabung dengan Kabupaten Morowali. Nilai total PDRB atas dasar harga berlaku di tahun tersebut adalah sebesar 1,72 triliun rupiah. Dimana sektor Pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi kontributor terbesar yang menyumbang setengah dari nilai total PDRB yaitu sebesar 879 miliar rupiah.

Bisa dikatakan sebelum adanya aktivitas pertambangan, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan adalah sektor unggulan. Akan tetapi di tahun 2021, sektor tersebut hanya mampu berkontribusi sebesar 2,17 persen dari total nilai PDRB. Masih bisakah sektor pertanian dan kawan-kawannya mengulang kembali kejayaannya seperti lima belas tahun yang lalu? Tentu untuk menjawabnya membutuhkan keterlibatan semua pihak baik pemerintah, swasta maupun masyarakat.

Seperti investasi pada sektor lapangan usaha pertambangan dan industri logam dasar yang mampu mendongkrak perekonomian Kabupaten Morowali, harapannya kedepan Pemerintah bisa mengoptimalkan investasi pada sektor lapangan usaha lainnya, khususnya sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang masih memiliki potensi ekonomi yang besar di Kabupaten Morowali.

Oleh: NUR ANNISA S.ST

Comments

Popular posts from this blog

Opini Keadilan Buruh dalam Hilirisasi

Kisruh buruh sering terjadi dimana mana. Bukan dari Sabang sampai Merauke namun secara Global sudah mengelilingi dunia kisruh perburuhan tersebut. Beranjak dari pengalaman dari seorang buruh yang ulet sebut Eko(samaran). Opini buruh tambang nikel, khususnya di wilayah seperti Morowali dan Maluku Utara, menunjukkan potret kontradiktif antara peluang ekonomi dan kondisi kerja yang berat. Meskipun hilirisasi nikel menciptakan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran, banyak buruh mengeluhkan sistem kerja dan perlindungan yang minim. Berkecimpung didunia perburuhan sebagai karyawan boleh dikatakan unik dan menyenangkan. Karena di samping sering di temukan tantangan ada juga sesi menetralisir kesenjangan.  Secara keseluruhan, opini buruh menuntut adanya keadilan dalam hilirisasi, di mana peningkatan nilai tambah harus berjalan beriringan dengan perlindungan hak-hak pekerja, jaminan sosial, dan keselamatan kerja yang lebih baik.  Berserikat (menjadi anggota serikat pekerja/buruh)...

Tambang Nikel di Indonesia: Antara Peluang dan Tantangan Masa Depan

  Indonesia saat ini berada di garis depan revolusi energi dunia. Bukan karena kita punya jutaan kendaraan listrik atau pabrik baterai canggih, tetapi karena kita punya nikel — salah satu komponen utama baterai kendaraan listrik. Tapi, seiring meningkatnya perhatian dunia pada tambang nikel di Indonesia, muncul pertanyaan besar: Apakah kita siap memaksimalkan potensinya tanpa mengabaikan dampaknya? Mengapa Nikel Itu Penting? Nikel bukan logam baru. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, perannya melonjak drastis karena dibutuhkan dalam produksi baterai lithium-ion, khususnya jenis NMC (Nickel-Manganese-Cobalt) yang digunakan pada mobil listrik seperti Tesla. Permintaan global terhadap nikel melonjak, dan Indonesia — sebagai produsen nikel terbesar dunia — langsung jadi sorotan. Indonesia, Raja Nikel Dunia Dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memegang kunci penting dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Data menunjukkan bahwa Indonesia menyumbang lebih dari 30% prod...

Dampak Tambang di Indonesia: Apa yang Perlu Kita Tahu?

  Kalau kamu pernah dengar soal mobil listrik atau baterai canggih, pasti nggak asing lagi dengan nama nikel. Logam ini jadi salah satu bahan utama untuk baterai lithium-ion—teknologi yang katanya akan menyelamatkan bumi dari emisi karbon. Tapi tunggu dulu, apakah nikel benar-benar “hijau”? Yuk, kita kulik bareng dampak tambang nikel di Indonesia! 1. Indonesia dan Nikel: Pemain Besar di Dunia Indonesia adalah penghasil nikel terbesar di dunia, terutama dari Sulawesi dan Maluku. Pemerintah bahkan melarang ekspor nikel mentah agar pengolahan dilakukan di dalam negeri—istilahnya “hilirisasi”. Tujuannya, supaya nilai ekonominya lebih tinggi dan membuka lapangan kerja lokal. Kedengarannya bagus, kan? Tapi kenyataannya, prosesnya nggak semulus itu. Tambang nikel punya dampak besar—dan seringkali diabaikan. 2. Dampak Lingkungan: Hijau di Luar, Abu-abu di Dalam Meski digunakan untuk produk “ramah lingkungan”, penambangan nikel justru merusak lingkungan. Contoh dampaknya: penggundulan hutan...